Dewan Pengurus Daerah
PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
Kota Surabaya

BPKK PKS Surabaya Gelar Pendidikan Politik untuk Perempuan Mulai dari Khotmil Qur’an Sampai Totok Wajah

Desa Sumberejo kecamatan Pakal Surabaya. Ahad, 26 September 2021. Jam di layar ponsel menunjukkan 07.49 WIB. Tersisa sekitar 10-15 menit untuk berangkat ke lokasi kegiatan BPKK pagi ini. Motor matic segera saya geber dengan kecepatan 60 km/jam. Alhamdulillah, BPKK PKS Surabaya hari ini menyelenggarakan acara di lima lokasi secara bersamaan. Rekor bagi pengurus BPKK yang biasanya sehari hanya dua kegiatan. Lima lokasi itu diantaranya  berada di kelurahan Tambaksari Surabaya Timur, Kelurahan Sukolilo sedangkan di Surabaya Barat berlokasi di Kelurahan Karangpilang, Kelurahan  Babat Jerawat dan Kelurahan Sumberrejo.

(lebih…)

SURABAYA – Ahad, (27/6) Ketua Dewan Pengurus Daerah Partai Keadilan Sejahtera (DPD PKS) Kota Surabaya Johari Mustawan me-launching gerakan Kampung Bersih, Hijau, dan Sehat di Kecamatan Bulak, Kota Surabaya. Kegiatan yang diampu oleh Bidang Pekerja, Petani dan Nelayan ini dipersiapkan untuk pemberdayaan masyarakat di tingkat RT, RW, dan kelurahan.

Acara yang juga dihadiri oleh Anggota DPRD Kota Surabaya dari PKS, Aning Rahmawati, Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Lilik Hendarwati, para pengurus RT, RW, dan tokoh masyarakat serta warga Bulak ini adalah salah satu pilot project atau percontohan bagi PKS Surabaya.

Johari menyampaikan, “PKS Kota Surabaya dengan kekuatan 31 DPC dan 154 DPRa serta kader yang tersebar di 31 kecamatan saat ini menggerakkan mesin partai dengan berkhidmat dan terus melayani, diantaranya dengan program unggulan mewujudkan kampung yang bersih, sehat, dan hijau.”

Kegiatan utama program ini berupa penguatan ketahanan pangan dengan budidaya tanaman kebutuhan pokok, budidaya maggot untuk mengolah sampah makanan, yang didahului dengan pemilahan sampah tentunya. “Pengurus PKS ditugaskan menghimpun, mengelola serta membina kelompok tani, ternak, dan nelayan yang sudah berjalan, sekaligus menumbuhkan,” imbuh Johari.

Proses launching sendiri diawali dengan dialog yang tampak gayeng antara pengurus PKS, Anggota Dewan PKS, serta warga. Warga mengapresiasi kegiatan ini sekaligus sangat antusias karena para Anggota Dewan PKS yang intens turun membersamai warga setiap saat, baik itu membantu advokasi, pemberdayaan maupun pembelaan pada warga.

Aning menyampaikan, “Di saat pandemi seperti ini, sangat dibutuhkan intervensi pemerintah untuk mengatasi warga yang terdampak. PKS turun dengan program yang nyata untuk warga. Insyaallah kita akan terus membersamai program pemerintah di lapangan. Kita berkolaborasi untuk Surabaya lebih baik.”

Setelah dialog dengan warga, dilakukan prosesi launching yang ditandai dengan penanaman bibit cabe, tomat, dan terong, disaksikan oleh seluruh peserta yang hadir. Selanjutnya, kegiatan ini akan didampingi dan dilaksanakan di tempat-tempat lainnya di seluruh Surabaya.

“Dengan kegiatan ini, kita targetkan kampung menjadi bersih karena sampah terkurangi dan terurai, sehat karena kebutuhan gizi tercukupi dengan tanaman yang ada, serta hijau karena rimbun dengan aneka flora,” pungkas Aning.

Gelaran acara perdana bertajuk PKS Peduli Bakat Perempuan Surabaya, Ahad (20/6) dibuka oleh Ketua DPD PKS Surabaya. Dalam sambutannya, Johari menyampaikan pesan kepada dua puluh peserta perempuan yang mengikuti acara Talent Optimization tersebut.

“Salah satu bahasan tarbiah di era moderen ini adalah bagaimana melahirkan semangat peran muslimah, sebab peran muslimah begitu penting dalam kemenangan kepemimpinan Islam. Bagaimana muslimah berkontribusi dengan potensi dirinya dan sejauh mana peran penting muslimah,” seru Bang Jo, panggilan akrab bapak dengan  tiga putra ini.

Acara dengan segmen perempuan ini adalah hasil kolaborasi dari Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga PKS Kota Surabaya bersama Azanaya Life Course. Dipandu narasumber yang sudah memiliki jam terbang tinggi, yakni Bunda Euis Kurniawati, 20 peserta perempuan PKS Surabaya begitu antusias menyimak materi sejak awal.

Pada acara ini, Bunda Euis menyampaikan tentang pentingnya mengenal bakat, juga cara membedakan antara minat dan bakat, sekaligus diskusi asyik antara peserta dan narasumber. Tak terasa kelas online Optimasi Bakat ini melebihi dari target susunan acara. Menjelang pukul 10.00 malam, kelas perdana ditutup dengan tugas untuk para peserta.

“Kesan pertama mengikuti kelas ini bareng Bunda Euis adalah menarik, sungguh-sungguh saya harus hadir seratus persen. Tidak hanya fisik, tetapi bersungguh-sungguh menyimak materinya. Semoga Allah mengizinkan dan memudahkan agar tujuan Kelas Optimasi Bakat terwujud lebih dalam lagi, setidaknya untuk diri dan keluarga sendiri,” ujar Dyah Anitaningyas, salah satu peserta.

Ketua Divisi Ketahanan Keluarga, Nur Annisa, menyampaikan, “Mengapa perlu tahu bakat? Supaya bahagia, sukses, jadi lebih bermanfaat, menuntaskan peran peradaban.”

Diharapkan dengan gelaran acara perdana kelas Talent Optimization via online ini, para perempuan PKS bisa mengetahui bakat masing-masing dan memunculkan semangat berkontribusi lebih maksimal, meluaskan manfaat di Kota Pahlawan. (Novita Ratna)

Akar Pohon, judul ini hampir tidak ada korelasinya dengan isi tulisanku. Banyak isi dari tulisanku yang merupakan kisah pribadi. Itu karena tujuanku bukan untuk eksistensi, apalagi sekadar tuntutan gengsi. Aku hanya ingin menuliskan apa yang pernah kualami. Jika tulisanku memang tidak menarik, tolong jangan berhenti membaca, sebab kata Najwa Shihab, “Membaca ialah upaya merengkuh makna, ikhtiar untuk memahami alam semesta. Itulah mengapa buku disebut jendela dunia, yang merangsang pikiran agar terus terbuka.”

Selamat membaca dan semoga terinspirasi.

***

Bagiku, mengenal dunia politik bukanlah hal yang baru. Aku dibesarkan oleh keluarga yang sepenuhnya mendukung keinginanku, bahkan terkesan memanjakanku. Apa pun permintaanku, selalu dituruti. Saat aku SMP, aku diberi amanah untuk menjabat sebagai Ketua OSIS. Dari situlah keinginanku untuk menekuni tentang ilmu politik pun muncul. Walaupun aku dibesarkan di lingkungan keluarga POLRI yang diwajibkan untuk netral terhadap politik praktis mana pun. Hal itu tak membuat diriku buta akan bahasan mengenai politik.

Namun, semenjak perpisahan orang tuaku, jangankan untuk memikirkan bahasan mengenai politik atau apa pun, untuk cari tambahan uang saku sekolah saja, aku bingung. Wajar, Ibu hanya seorang diri membesarkan aku dan kedua adikku. Segalanya berubah dan praktis mengubahku. Cara berpikir, bersikap, bertindak, dan mengambil keputusan, akhirnya mengubahku menjadi pribadi dengan kepribadian baru.

Singkat cerita, aku tumbuh menjadi seorang mahasiswa. Sebenarnya, aku pun masih tidak percaya atas pencapaianku yang mampu bertahan sampai di titik yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Setelah banyak kerikil, batu, sandungan yang menghalangi jalanku, aku masih berdiri dan tetap menatap arah lurus ke depan menerima tantangan apa pun yang diberikan oleh dunia.

***

Bicara tentang politik, aku akan memulai dari apa yang kualami sebagai seorang mahasiswa di sebuah kampus di Jawa Timur. Entah kenapa, mulai ospek universitas sudah diamati oleh banyak mahasiswa senior di lingkungan kampus. Bukan karena aku tampan, melainkan karena aku sering bersuara lantang dan menantang kakak-kakak yang tergabung sebagai komisi disiplin pada saat itu. Banyak gaya, bisanya cuma teriak-teriak, tetapi jika diteriaki balik jadi ciut, bahkan aku langsung jadi pemeran antagonis bagi para komdis saat itu. Rasanya lucu kalau diingat lagi. Aku tidak suka sistem mereka memberikan pengertian disiplin, sedangkan mereka sendiri tidak tahu apa arti disiplin itu.

Setelah rangkaian ospek selesai, banyak kakak tingkat mulai menawariku untuk mengikuti organisasi eksternal kampus. Tidak hanya dari satu aliansi. Rasanya tak perlu disebutkan. Aku adalah orang yang gampang penasaran dan selalu ingin belajar hal baru. Jadi, aku coba untuk berkunjung serta mengikuti diskusi mereka. Mulai dari aliansi A di hari pertama, aliansi B di hari kedua, aliansi C di hari ketiga, begitu seterusnya bergiliran.

Sampai pada satu titik, aku merasa tidak menemukan kecocokan visi dan misi aliansi mana pun dari mereka. Tujuan mereka baik sebenarnya, yakni untuk memberikan wawasan politik serta mengajarkan apa yang tidak diajarkan oleh perkuliahan di kampus. Namun, yang tidak aku suka dari gerakan mereka adalah doktrin bahwa setiap paham atau landasan yang mereka ikuti adalah yang paling benar, terkesan menjelek-jelekkan satu sama lain, lantas bekerja sama dalam memperebutkan kekuasaan dan jabatan. Jadi, tidaklah salah jika ada orang yang mengatakan bahwa kampus adalah miniatur negara. Benar-benar mirip, hanya saja lebih ahli mungkin.

Dari situ, sudah pasti keputusan yang aku ambil adalah menjadi pribadi yang independen. Tidak terpengaruh dengan ajakan dari aliansi mana pun. Sesuai kata Soe Hok Gie, “Hanya ada 2 pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus, tetapi aku memilih untuk menjadi manusia merdeka.” Kalimat itulah yang membuatku makin bersemangat untuk tetap menjadi independen.

Saat itu, aku dan kawan sekelasku mengambil inisiatif untuk menjadikan pemerintahan program studi kami bersih dari aliansi mana pun karena petuah dari pendahulu di sana, kami harus merebut kembali sistem pemerintahannya agar program studi kami lebih baik. Tahun pertama, kami kalah. Tahun selanjutnya, kami berhasil menjalankan tujuan tersebut. Alhamdulillah, tahun ini adalah tahun kedua kami menguasai sistem pemerintahan di program studi.

***

Bukan aku namanya jika selalu mengikuti arus air. Melakukan hal yang sama tiap waktu membuatku merasa bosan. Akhirnya, aku memberanikan diri untuk mencari panggung yang lebih luas lagi dan relasi yang lebih banyak lagi. Keseharianku sebagai aktivis pramuka harusnya cukup untuk membuatku mendapat panggung luas untuk mengembangkan diri. Namun, tetap kurang luas. Selalu merasa kurang? Tidak. Aku tidak berpikir ke arah sana sama sekali. Hal yang kupikirkan, sayang jika di usiaku yang masih kepala dua, aku tidak memaksimalkan potensi yang aku punya. Realistis kurasa.

Terbersit pemikiran untuk terjun ke dunia politik. Asyik menurutku. Jujur, aku berpikir politik itu asyik karena melihat dan menganalisa kebiasaan oknum para anggota dewan yang pekerjaannya begitu santai. Ya ... memang tidak semua seperti itu. Namun, apa salahnya aku mencoba? Toh itu hak warga negara yang dilindungi konstitusi, apalagi Ibu juga mengizinkan dan mendoakan jika kelak aku berhasil menduduki kursi atau jabatan tertentu agar tidak lupa dari mana aku berasal.

Masalah muncul setelah itu. Untuk berkarier di dunia politik, jelas aku butuh panggung partai politik yang dapat menampungku sebagai anak muda, memiliki semangat dan potensi serta pandangan serta aspirasi yang mungkin dapat disalurkan demi kemajuan bersama. Cukup lama aku searching di internet tentang recruitment partai politik di Kota Surabaya. Namun, dominan mereka membutuhkan yang sudah sarjana, bahkan banyak selentingan di luar sana yang bilang harus kaya untuk jadi anggota partai politik. Siapa yang tidak ciut mendengar hal itu? Sempat kuurungkan niatku. Namun, aku yakin, suatu saat nanti pasti akan ada jalannya sendiri.

Aku percaya saat seseorang memiliki tujuan yang kuat, jalan itu pun pasti muncul. Benar saja, Pemilihan Walikota Surabaya 2020 menjadi awal mulaku menemukan kesempatan untuk menuju panggung itu. Tentunya tidak langsung jadi calon legislatif. Tawaran pertamaku datang dari kerabat yang menawarkan job menjadi saksi pasangan politik. Bak gayung bersambut, aku yang lagi getol-getolnya mencari jalan menuju tujuanku, ditawari hal yang berbau politik seperti ini, jelas jawabanku, “Sikat!”

Bukan nekat, sudah kupikirkan dengan matang segala keputusanku. Selain karena tujuan yang kukejar sebagai kader sebuah partai politik, aku juga sudah pernah mengambil job sebagai saksi sebuah partai politik pada saat Pemilihan Presiden 2019 silam. Hanya saja kala itu aku masih belum memiliki pemikiran untuk terjun menjadi kader sebuah partai politik. Maklum, saat itu mungkin pemikiranku belum kubiarkan seliar ini.

Aku tahu dan sangat paham bahwa saat aku mengambil tanggung jawab ini, akan banyak dinamika yang kuikuti dan kujalani. Rapat ini itu, konsolidasi, pertemuan, menyita waktu dan tenaga. Singkat cerita, semua sudah beres. Tuntasnya tugas ini semakin membuatku bersemangat mendalami apa itu partai politik.

Kebetulan, koordinator saksi wilayah kecamatan saat itu menawarkan untuk gabung ke partai politik yang memberiku job menjadi saksi. Bapak Mukhlis namanya. Pak Mukhlis mengatakan, aku memiliki potensi untuk menjadi seorang kader, apalagi, aku masih muda dan masih dapat mengembangkan potensi sebanyak-banyaknya. Ya, partai tersebut adalah PKS. Partai Keadilan Sejahtera. Sebuah partai yang bukan partai dengan nama baru di telingaku. Partai dengan semangat yang baru serta memberikan wadah untuk kaum muda mengembangkan diri sebagai kader partai yang kritis, sekaligus tetap santun.

Sejujurnya, aku mengenal sekilas PKS karena seorang tokoh bernama Fahri Hamzah. Beliau memiliki pemikiran yang terkesan nyeleneh, berani, serta pandai mengkritik dengan tidak pandang bulu, dengan selalu memiliki dasar yang kuat. Kokoh dan tidak takut dalam bersuara. Bagiku, beliau adalah role model untuk calon politikus muda sepertiku. Namun, sayang sekali beliau memutuskan untuk mendirikan sebuah jalan baru. Tidak masalah, sebab kelak mungkin saja aku yang menjadi Bung Fahri yang baru. Hehehe. Kalau yang ini bisa jadi realistis, tetapi juga bisa jadi masih imajinatif.

Jadi, jelas saja kuambil tawaran untuk bergabung menjadi Kader PKS Muda. Kuikuti segala prosedur yang ada untuk mendaftar dan masuk ke dalam perekrutan kader ini. Aku bersyukur, mungkin selangkah lagi aku sudah menjadi seorang kader dari PKS walaupun masih dalam naungan Divisi Kepemudaan. Pastinya, langkahku semakin terbuka lebar untuk berkiprah dalam dunia politik.

***

Aku membayangkan diriku sebagai sebuah pohon, akan terus bertumbuh hingga dia mati. Dia tidak akan mengerti apa yang akan datang untuk mengganggu proses pertumbuhannya. Namun, selama pohon tersebut masih memiliki akar kuat yang menopangnya untuk tetap berdiri, kecil kemungkinan untuk pohon tersebut mati.

Prinsip itulah yang kuyakini dalam hidup. Tujuanku ibarat pohon. Proses bertumbuhnya pohon itu adalah prosesku untuk menggapai tujuanku. Sebelum aku menggapai tujuanku, jelas aku memerlukan tekad yang kuat sebagai penopang diri agar tetap berdiri teguh. Nah, tekad itulah yang kuibaratkan sebagai akar.

Terlalu naif jika aku menitipkan pesan tersirat dari tulisanku ini. Jangankan menitipkan pesan, menata arah tulisanku saja aku tidak mampu. Harapanku, semoga doa ibuku menjadi kenyataan serta kelak pembaca tulisan ini mengerti bahwa di balik tinggi dan besarnya pohon, akan selalu ada akar yang menopangnya agar tetap berdiri. Itulah alasan tulisan ini kuberi judul demikian. (ARATAMA)

Minggu, 6 Juni 2021. Masuk 25 Syawal, 126 perempuan PKS Surabaya hadir pada gelar tahunan halalbihalal bersama Siti Oniah secara virtual. Istri dari Mardani Alisera ini memberikan kiat bagaimana perempuan tetap aktif, produktif, serta berdaya di masa pandemi.

Acara halalbihalal diawali dengan sambutan dari ketua BPKK Kota Surabaya Enny Minarsih. Dalam sambutannya, perempuan yang akrab dipanggil Enny tersebut menyampaikan merasa berbahagia bisa dipertemukan dengan Ibu Oni.

"Tentunya acara halalbihalal ini begitu istimewa dengan nasihat dan sharing ilmu dari beliau. Energi positif juga akan tertularkan ke 31 kecamatan dan 154 kelurahan. Tak hanya itu saja, dengan kiat tetap produktif, aktif serta berdaya, maka target 15 persen suara tentu akan mudah diraih dengan izin Allah." Begitu paparan ketua BPKK yang juga pemilik Salon dan SPA Alfafa ini.

Pada sesi pemaparan sharing kiat agar tetap produktif yang disampaikan oleh Siti Oniah, setidaknya ada lima hal yang harus diperhatikan. Pertama, terus meng-upgrade diri dengan ilmu. Kedua, ikhlas. "Kita masuk PKS ini bukan karena dunia, tetapi karena Allah," papar Siti Oniah.

Ketiga, akhlak terpuji. Keempat, banyak berdoa agar dapat istikamah bersama dakwah, terus membersamai dakwah sampai Allah mengambil nyawa kita. Tentu saja ini tidak bisa diraih tanpa adanya doa. Kelima, manusia yang bahagia. Siti Oniah menjelaskan, "Kebahagiaan begitu banyak dan dekat dengan kita. Bahagia tak selalu dengan yang mahal. Bahagia begitu sederhana. Bahagia akan menaikkan elektabilitas PKS."

Tak kalah menariknya, di gelaran halalbihalal kali ini ada sesi pembagian doorprize. Peserta begitu semangat berebut raise hand di layar Zoom Meeting. Adapun DPC yang menghadirkan peserta terbanyak adalah dari Kecamatan Jambangan, Rungkut, Wonocolo, dan Gayungan. (NRA)

Surabaya (31/10) - Pilwali Surabaya yang semakin dekat tidak menjadikan anak - anak muda patah semangatnya. Kembali mereka unjuk gigi dalam flashmob kedua yang mereka adakan pada Sabtu (31/10). Flashmob yang diinisisasi oleh Persada PKS Surabaya ini dilaksanakan di sekitar kantor Wismilak Tegalsari. Acara ini dimeriahkan sekitar 100 pemuda dalam rangka mendukung Machfud Arifin - Mujiaman menjadi walikota dan wakil walikota Surabaya.

Para pemuda saling unjuk kreatifitas dalam disepanjang jalan. Mengenakan atribut, mulai banner, rompi, juga bendera. Meskipun dibawah hujan, anak - anak muda tetap mengangkat 2 jari sebagai simbol nomor dua dari pasangan yang mereka dukung.

"Hanya hujan air tak akan bisa menghalangi tekad kita. Pantang surut ke belakang hingga kita menang", papar salah satu peserta flashmob.

Pemuda memang semestinya menjadi pelopor suksesnya Pilkada. Baik dalam mengawal jalannya agar supaya Pilkada sesuai dengan etika. Melakukan pencerdasan kepada masyarakat, juga mengajak masyarakat menggunakan hak pilihnya.

Persada PKS Surabaya dengan mantap hati menggaungkan agar masyarakat Surabaya memilih Machfud Arifin - Mujiaman di Pilwali Surabaya Desember mendatang.

“Bapak Machfud Arifin dan Mujiaman adalah sosok pemimpin yang dinantikan masyarakat Surabaya. Beliau sosok yang tegas, disiplin, dan memang bercita - cita menjadikan Surabaya MAJU dalam semua aspek”, ungkap Dimas peserta flashmob dengan penuh semangat. (arn)

Surabaya (29/10) – Pandemi Covid-19 telah memporak-porandakan sendi-sendi ekonomi masyarakat Kota Surabaya. Banyak yang kehilangan pekerjaan maupun usahanya gulung tikar.

Kondisi ini mengancam ketahanan pangan masyarakat. Menghadapi situasi sulit yang belum jelas kapan berakhirnya, DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Surabaya dalam momentum Hari Ketahanan Pangan menggulirkan Program Gerakan Ayo menanam bersama komunitas Budidaya Ikan Dalam Ember (Budikdamber). Yaitu budidaya ikan lele dan menanam sayuran (kangkung) dalam satu ember.

“Gerakan Ayo Menanam dengan memanfaatkan ember untuk gerakan Budikdamber yang bermanfaat. Kuota awal 100 peserta kader mendapatkan bantuan satu paket Budikdamber,” kata Ketua DPD PKS Kota Surabaya Akhmad Suyanto usai acara pembekalan dan pembinaan dalam rangka ketahanan pangan di Kantor DPD PKS Kota Surabaya, Kamis (29/10/2020).

Ia melanjutkan, gerakan Ayo Menanam atau Budikdamber awal dimulai di Kantor DPD PKS Kota Surabaya.

Suyanto berharap, gerakan ini bisa diikuti kader-kader PKS yang tersebar di 31 kecamatan Kota Surabaya. Bahkan bisa menginspirasi masyarakat secara lebih luas untuk gerakan budidaya ikan lele yang bermanfaat di rumah.

“Intinya, Gerakan Ayo Menanam bisa menjadi solusi dalam ketahanan pangan. Sehingga bisa membentuk kemandirian pangan di lingkup keluarga. Dengan menerapkan gerakan ini tidak perlu lagi membeli dan bisa memanen sendiri,” ujarnya.

Menurutnya, sulit memprediksi kapan pandemi Covid -19 ini berakhir. Pasalnya, tidak bisa dihitung secara matematis.

“Yang bisa kita lakukan sekarang dengan menerapkan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari. Begitu pun untuk mempertahankan ketahanan pangan keluarga, salah satunya melalui gerakan Ayo Menanam,” tutur pengusung paslon Cawali dan Cawawali Nomer 2 MA-Mujiaman ini.

Ketua Bidang Pekerja Petani dan Nelayan (BPPN) DPD PKS Kota Surabaya Hermanto Putra menambahkan, pihaknya lebih fokus terhadap sektor pangan terhadap keterpurukan masyarakat terdampak pandemi covid-19.

“Tentunya kami meneruskan program dari BPPN pusat. Yang awalnya Gerakan Ayo menanam hanya untuk kader PKS, namun bagaimana kita bisa mewujudkan program ketahanan pangan ke tingkat Nasional,” ujarnya.

Lanjutnya, khusus Gerakan Ayo menanam bersama PKS di wilayah Surabaya dengan membentuk komunitas Budikdamber.

“Awalnya kita bentuk 100 peserta. Jika ke depan sudah nampak berhasil, kita pakai sistem getok tular agar gerakan komunitas Budikdamber bisa semakin berkembang luas di Surabaya,” pungkasnya.

disunting dari: suararakyatjatim.com

SURABAYA (25/10) Anak muda yang kerap kali disapa Millenial ternyata memiliki perhatian khusus kepada momen Pilkada yang akan dilaksanakan pada bulan Desember 2020. Persada PKS Kota Surabaya, menjadi wadah bagi para pemuda Surabaya untuk menjadi sayap relawan klaster pemuda pada pemenangan Pilkada tahun ini.

"Kita sebagai pemuda Persada PKS Kota Surabaya, ingin turut dalam menyukseskan Pilkada Kota Surabaya. Sudah waktunya kita rapatkan barisan, mengawal perjuangan dan merealisasikan kemenangan. Apa pun yang bisa dikerjakan oleh pemuda, ayo kita kerjakan," ujar Akbar, Koordinator Persada PKS Kota Surabaya.

Beberapa kegiatan telah dilaksanakan Persada PKS Kota Surabaya untuk turut mengkampanyekan paslon walikota yang diusung PKS, yaitu MA-Mujiaman. Kegiatan tersebut diantaranya futsal setiap pekan dengan pemuda Surabaya diberbagai Dapil dan flashmob yang akan diadakan hari Minggu, (25/10) di persimpangan Kebun Binatang Surabaya pada pukul 6.00 pagi.

Satu per satu alat peraga kampanye telah dipersiapkan dan massa setiap jam terus bertambah pada flashmob perdana yang diadakan Persada PKS Kota Surabaya. Flashmob ini akan dijalankan sesuai dengan anjuran protokol Covid yang diatur oleh pemerintah.

Harapan dari dilaksanakannya kampanye dengan flashmob ini adalah mengenalkan sosok paslon MA-Mujiaman kepada para pengendara, mengajak mereka untuk memilih tanpa ada paksaan tentunya dengan asas LUBERJURDIL, dan menancapkan jargon PKS di hati masyarakat bahwa PKS akan selalu berkhidmat untuk rakyat.

SURABAYA – Ketua DPD (Dewan Pengurus Daerah) PKS Kota Surabaya mendesak pemerintah berkenan mendengar aspirasi masyarakat dari sejumlah elemen yang menolah disahkannya UU Cipta Kerja atau omnibus law.

Ketua DPD PKS Akhmad Suyanto menilai, seyogianya menaruh perhatian pada kisruh ini. Terlebih, pengajuan keberatan berasal dari banyak elemen, mulai sikap para akademisi, tokoh masyarakat serta organisasi pemuda dan organisasi keagamaan yang menolak disahkannya UU Omnibus Law Cipta Kerja.

Menyusul pula unjuk rasa dari berbagai daerah di nusantara oleh buruh, pemuda mahasiswa, serta organisasi massa yang berdemonstrasi menyuarakan yang sama.

“Respon masyarakat Surabaya perlu diberi atensi khusus, apalagi Surabaya sebagai kota indamardi, (Industri-perdagangan-jasa-maritim-pendidikan) sangat terkait dengan pelaksanaan undang-undang ini. Karena itu wajar ada reaksi yang besar,” ujar Yanto, panggilan akrabnya.

Yanto menambahkan persoalan buruh, tenaga kerja, upah, pendidikan, adalah hal yang sensitif dan setiap tahun selalu muncul di Kota Surabaya.

“Satu hak saja dirampas, satu kewajiban saja tidak terlaksana, biasanya memicu reaksi para pekerja. Tak heran UU Omnibus Law ini responnya jadi meluas,” terang Yanto.

Karena itu, Fraksi PKS meminta pemerintah membatalkan pemberlakuan undang-undang ini. Dan memulai kembali pembahasan dengan menampung aspirasi rakyat. Pembahasan bisa kembali digodok setelah semua kondusif, dan situasi pandemi ini bisa terkendali.

“Yang penting dibatalkan dulu. Agar tidak terjadi keresahan. Situasi pandemi dan resesi ekonomi begini kan mestinya kita bisa bersatu dan fokus menangani. Jangan sampai ada keresahan sosial,” ujar Yanto.

Menanggapi kericuhan dan perusakan fasilitas umum dalam kegiatan unjuk rasa, Yanto turut menyayangkan.

Yanto berharap ulah segelintir oknum pengunjuk rasa yang tidak tertib dan melakukan perusakan, tidak mengurangi substansinya yakni penolakan terhadap UU Omnibus Law Cipta Kerja.

“Saya pikir aparat keamanan sudah bisa membedakan. Mana yang tertib, mana yang melanggar, mana yang provokator. Intinya pada substansi penolakan yang luas terhadap UU Cipta Kerja ini mesti diperhatikan Pemerintah,” tegas Yanto.

(Disunting dari: radarjatim.id)

Surabaya - PKS (Partai Keadilan Sejahtera) Kota Surabaya menyelenggarakan penyerahan paket data internet kepada perwakilan siswa secara simbolis pada Ahad (20/09). Acara ini bertempat di Kantor DPD (Dewan Pengurus Daerah) PKS Surabaya, diikuti oleh beberapa perwakilan pelajar SD, SMP, SMA di Surabaya yang menerima bantuan paket data internet.

Penyerahan paket data internet ini merupakan realisasi program GEREGET (Gerakan Berbagi Kuota Internet). Setelah dilaunching DPP (Dewan Pengurus Pusat) PKS beberapa waktu lalu, kini giliran PKS Kota Surabaya yang melaksanakan simbolisasinya.

Cahyo Siswo Utomo selaku Sekretaris Umum DPD PKS Kota Surabaya hadir dan memberikan sambutannya dalam acara ini. Beliau menyampaikan akan pentingnya kuota internet di masa sekarang.

"Saat seperti ini (red: pandemi), Selain sandang, pangan dan papan, ada lagi kebutuhan pokok yang tak kalah penting, yaitu pulsa. Makanya muncul istilah SP3 (sandang, pangan, papan, pulsa). Untuk itulah PKS Kota Surabaya mengikuti instruksi DPP dan DPW (Dewan Pengurus Wilayah) untuk membantu warga akan kebutuhan pulsa, sebagai wujud khidmat PKS untuk pendidikan di kala pandemi. " ungkap Cahyo.

Reza, selaku wakil siswa SD yang hadir dalam acara ini menyampaikan rasa terima kasihnya.

"Senang sekali karena mendapat bantuan pulsa." tutur Reza

Kami segenap keluarga besar PKS Surabaya akan terus berusaha berkhidmat untuk rakyat, menjadi pendengar yang paling setia, pelayan yang penuh hati, dan pejuang yang terus bergerak. (arn)

DEWAN PENGURUS DAERAH
PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
KOTA SURABAYA
Jl. Tales V No. 3
Kelurahan Jagir, Kec. Wonokromo
Surabaya 60244
crossmenuchevron-down